Rabu, 18 April 2012

Teori Struktural Konflik



A.PEMBAHASAN

1.Pengertian Teori Struktural Konflik

a.Pengertian structural secara etimologi dan terminologi

1) Secara etimologi, menurut kamus bahasa Indonesia, struktural adala cara sesuatu disusun atau dibangun, susunan atau bangunan.

2) Secara terminologi, menurut kamus bahasa Indonesia, structural adalah sesuatu yang berkenaan dengan struktur.[1]




b. Pengertian konflik secara etimologi dan terminologi

1) Secara etimologi, konflik berasal dari kata kerja Latin confligere yang berarti saling memukul. Menurut kamus besar bahasa Indonesia konflik adalah percekcokkan, perselisihan, pertentangan.

2) Secara terminologi, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.[2]


c. Pengertian konflik menurut para tokoh:

1) Menurut Nardjana (1994) Konflik adalah akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.

2) Menurut Killman dan Thomas (1978), konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja (Wijono,1993, p.4)

3) Menurut Wood, Walace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1998:580) yang dimaksud dengan konflik (dalam ruang lingkup organisasi) konflik adalah suatu situasi dimana dua atau banyak orang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang menyangkut kepentingan organisasi dan/atau dengan timbulnya perasaan permusuhan satu dengan yang lainnya.

4) Daniel Webster mendefinisikan konflik sebagai:

a)Persaingan atau pertentangan antara pihak-pihak yang tidak cocok satu sama lain

b) Keadaan atau perilaku yang bertentangan (Pickering, 2001).[3]


2. Konstruksi Teori Struktural Konflik

Teori structural konflik muncul dalam sosiologi Amerika Serikat pada tahun 1960-an yang merupakan kebangkitan kembali berbagai gagasan yang diungkapkan sebelumnya oleh Karl Marx dan Max Weber. Kedua tokoh ini merupakan teoritis konflik meski satu sama lain mereka berbeda.

Kedua teoritisi konflik ini, Marx dan Weber menolak tegas terhadap gagasan bahwa masyarakat cenderung kepada beberapa consensus dasar atau harmoni, dimana struktur masyarakat bekerja untuk kebaikan setiap orang. Kedua teoritisi ini memandang konflik dan pertentangan kepentingan serta concern dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan adalah determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan social.[4]


2.a Karl Marx

Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke-19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar.[5]

Pikiran awal Marx amat dipengaruhi oleh munculnya industrialisasi abad ke-19, yang telah melahirkan fenomena yang bertolak belakang antara buruh yang hidup menderita dan sengsara di satu pihak dan pemilik alat-alat produksi yang menikmati surplus yang disumbangkan oleh keringat dan tenaga yang dikeluarkan oleh kaum buruh di lain pihak. Dari latar belakang sejarah kemudian dapat ditelusuri benang merah yang menggambarkan munculnya kondisi yang mempengaruhi aliran Marxis awal, yaitu pertama munculnya tekanan structural yang kuat terhadapindividu dan kedua, kondisi industry yang memperburuk hubungan sosial yang membawa ke dalam alienasi, bukan saja alienasi indicidual melainkan alienasi missal sejalan dengan persebaran mode of production yang dikendalikan oleh indutri.

Sejumlah ilmuwan sosial berusaha menjelaskan bahwa, perspektif konflik yang berakar pada pemikiran Karl Marx, betapapun radikalsme diakui sebagai salah satu jalan keluar sehingga sangat erat dengan revolusi, hal ini tidak dimaksudkan menumpahkan darah. George Ritzer misalnya mengatakan bahwa tidak benar kalau Marxisme dikatakan sebagai ideology radikal yang haus darah (a bloodthirsty radical ideology). Marx adalah seorang humanis. Hatinya terluka melihat pnderitaankaum buruh akibat eksploitasi di bawah sistem yang kapitalistik. Rasa kemanusiaan itu mendorongnya untuk mencetuskan keinginan merubah tatanan kapitalistik dalam sistem yang mapan tetapi dalam praktek mengeksplotasi masyarakat. Oleh karena itu, sistem tersebut harus diubah agar menjadi lebih manusiawi. Tetapi hal itu hanya harus mungkinterjadi dalam sistem sosialis.[6]

Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial.[7]

Setelah untuk waktu yang lama perspektif konflik diabaikan oleh para sosiolog, baru-baru ini perspektif tersebut telah dibangkitkan kembali oleh C. Wright Mills [1956-1959], Lewis Coser: [1956] dan yang lain [Aron, 1957; Dahrendorf, 1959, 1964; Chambliss, 1973; Collins, 1975]. Bilamana, para fungsionalis melihat keadaan normal masryarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap, maka para teoritisi konflik melihat masyarakat sebagai berada dalam konflik yang terus-menerus di antara kelompok dan kelas.sekalipun Marx memusatkan perhatiannya pada pertentangan antar kelas untuk pemilikan atas kekayaan yang produktif, para teoritisi konflik modern berpandangan sedikit lebih sempit. Mereka melihat perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan terkecuali satu hal, di mana orang-orang muncul sebagai penentang kelas, bangsa, kewarganegaraan dan bahkan jenis kelamin.

Menurut para teoritisi konflik, para fungsionalis gagal mengajukan pertanyaan “secara fungsional bermanfaat untuk siapa“. Para teoritisi konflik menuduh para fungsionalis berasumsi bahwa “keseimbangan yang serasi” bermanfaat bagi setiap orang sedangkan hal itu menguntungkan beberapa orang dan merugikan sebagian lainnya. Para teoritisi konflik memandang keseimbangan suatu masyarakat yang serasi sebagai suatu khayalan dari mereka yang tidak berhasil mengetahui bagaimana kelompok yang dominan telah membungkam mereka yang dieksploitasi.[8]

Marx dan Weber menerapkan gagasan umum dalam teori sosiologi mereka dengan cara masing-masing yang mereka pandang menguntungkan. Karl Marx (Stephen K. Sanderson, 1993: 12-13) berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan-hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan social manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan pemilihan komunal atas kekuatan-kekuatan produks. Dengan demikian masyarakat terpecah menjadi kelas-kelas social berdasarkan kelompok-kelompok yang memiliki dan mereka yang tidak memiliki kekuatan-kekuatan produksi. Jadilah kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas-kelas yang tersub-ordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Secara alamiah saja, kelas-kelas yang memberontak dari kelasnya. Dalam situasi ini, hanya negara yang mampu menekan pemberontakan tersebut dengan kekuatan.

Dengan demikian, teori Marx di atas memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dan kelas-kelas social sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa pertentangan antara kleas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan social. Sebenarnya sebagaimana yang ia kumandangkan, sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga kini adalah sejarah pertentangan-pertentangan kelas. Dalam Hal ini Stephen K Sanderson (1993: 12) menyebutkan bahwa, beberapa strategi konflik marsian-modern adalah sebagai berikut:[9]

1) Kehidupan social pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan didalam kelompok-kelompok yang bertentangan.

2) Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan-kekuasaan politik merupakan hal penting, sehingga berbagai kelompok berusaha merebutnya.

3) Akibat tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi.

4) Pola-pola social dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh social dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan.

5) Konflik dan pertentangan social didalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan social.

6) Karena konflik dan pertentangan merupakan cirri dasar kehidupan social, maka perubahan social menjadi hal yang umum dan sering terjadi.

Berikutnya Stephen K Sanderson menjelaskan bahwa strategi konflik Marxian secara esensial lebih merupakan strategi materialis ketimbang idelais. Tentu saja tidak mengherankan, karena kenyatan menunjukkan bahwa Marx mengusulkan gagasan bersifat materialistis dan konflik. Para teoritisi konflik Marxian memandang konflik social muncul terutama karena adanya upaya untuk memperoleh akses kepada kondisi-kondisi material yang menopang kehidupan soisal. Para teoritis ini melihat kedua fenomena ini sebagai determinan krusial bagi pola-pola social dasar suatu masyarakat.


2.b Max Weber

Sementara itu menurut R. Collins (Stephen K. Sanderson, 1993: 13), Weber meyakini bahwa konflik terjadi dengan cara yang jauh lebih dari sekedar kondisi-kondisi material. Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan cirri dasar kehidupan social. Tetapi jangan dilupakan bahwa banyak tipe-tipe konflik lain yang juga terjadi. Di antara berbagai tipe konflik tersebut, Weber menekankan yang sangat penting.[10]

Pertama, yaitu bahwa konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Baginya kehidupan social dalam kadar tertentu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagai individu dan kelompok tertentu yang lain dan dia tidak menganggap pertentangan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya Weber melihat dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan untuk memeperoleh keuntungan ekonomi. Lebih jelasnya Weber melihat dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan itu sendiri; ia berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidaklah terbatas hanya pada organisasi-organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe kelompok seperti organisasi keagamaan dan pendidikan.

Kedua, adalah tipe konflik dalam hal gagasan dan cita-cita. Ia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu berupa doktrin keagamaan, filsafat sosial ataupun konsepsi tentang bentuk gaya hidup cultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan, tetapi dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya, misalnya pertentangan politik. Jadi orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan dan pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa kekuasaan itu yang mereka tuju tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Dengan demikian jelaslah bahwa Weber bukan seorang materialis ataupun idealis. Ia biasa disebut para sosiolog modern sebagai contoh seseorang pemikir yang mengkombinasikan pola penjelasan materialis dan idealis dalam pendekatan sosiologis yang bersifat menyeluruh. Lebih jauh, Weber berpendapat bahwa gagasan bukanlah semata-mata hasil dari kondisi-kondisi material yang ada, tetapi keduanya seringkali signifikan kausalnya sendiri-sendiri.[11]

Perbedaan Pendapat antara Marx dan Weber

1) Marx berpendapat bahwa karena konflik pada dasarnya muncul dalam upaya memperoleh akses terhadap kekuatan-kekuatan produksi. Karenanya begitu begitu kekuatan-kekuatan ini dikembalikan kepada seluruh masyarakat, maka konflik dasar tersebut dapat dihapuskan. Jadi begitu kapitalis digantikan dengan sosialisme, maka kelas-kelas akan terhapuskan dan pertentangan kelas akan berhenti.

2) Weber memiliki pandangan yang jauh pesimistik. Ia percaya bahwa pertentangan merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial yang sangat kukuh dan tak dapat dihilangkan. Dalam suatu tipe masyarakat masa depan, baik kapitalis, sosialis atau tipe lainnya orang-orang akan tetap selalu bertarung memperebutkan berbagai sumber daya. Karena itu Weber menduga bahwa pembagian atau pembelaan sosial adalah ciri pemanen dari semua masyarakat yang sudah kompleks, walaupun tentu saja akan mengambl bentuk-bentuk dan juga tingkat kekerasan yang secara subtansial sangat bervarisai.[12]


2.c Lewis Coser

Selama lebih dua puluh tahun Lewis A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tekanan pada struktur sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Coser mengakui beberapa susunan structural merupakan hasil persetujuan dan consensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsionla structural, tetapi dia juga menunjuk pada proses lain yaitu konflik sosial.[13]

Coser (1956: 16-19)[14], dalam membahas ahli teori (bangsa Amerika) yang lebih awal, menyatakan pemahaman mereka tentang konflik sebagai kesadaran yang tercermin dalam semangat pembaharuan masyarakat. Alboin Small dan George E. Vincen sebagai pengarang terkenal buku teks pertama sosiologi Amerika.

Akan tetapi para ahli sosiologi kontemporer sering mengacuhkan analisa konflik sosial, secara implicit melihatnya sebagai desktruktif atau patologis bagi kelompok sosial. Coser memilih menunjukkan berbagai sumbangan konflik yang secara potensial positif untuk membentuk serta mempertahankan struktur. Dia melakukan hal ini dengan membangun di atas sosiologi kalsik pernyataan-pernyataan yang berhubungan konflik sosia, dan terutama melalui kepercayaan pada ahli sosiologi Jerman yang terkenal yaitu George Simmel.

Katup Penyelamat

Katup Penyelamat (Savety-Value) ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial “Katup Penyelamat” membiarkan luapan permusuhan tersalur tanpa menghancurkan seluruh struktur, konflik membantu “membersihkan suasana” dalam kelompok yang sedang kacau. Coser (1956:41)[15] melihat katup penyelamat demikian berfungsi sebagai jaln keluar yang meredakan permusuhan”, yang tanpa itu hubungan-hubungan di antara pihak-pihak yang bertentangan akan semakin tajam.[16]

Lewat katup penyelamat (Savety -Value) itu permusuhan dihambat agar tidak berpaling melawan obyek aslinya. Tetapi penggantian yang demikian mencakup juga biaya bagi sistem sosial maupun bagi individu: mengurangi tekanan untuk menyempurnakan sistem untuk memenuhi kondisi-kondisi yang sedang berubah maupun membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif.

Konflik Realistis dan Konflik Non-Realistis

Dalam membahas berbagai situasi konflik Coser membedakan konflik yang realistis dari yang tidak realistis. Konflik yang realistis “berasal dari kekecewaan terhadap tuntunan-tuntunan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Para karyawan yang mengadakan pemogokan melawan manajemen meerupakan contoh dan dari konflik realistis, sejauh manajemen memang berkuasa dalam hal kenaikan gaji serta berbagai keuntungan buruh lainnya.

Di pihak lain, konflik yang tidak realistis adalah konflik yang “bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak” (Coser 1959: 49)[17]. Dalam masyarakat yang buta huruf pembalasan dendan lewat ilmu gaib sering merupakan bentuk konflik non-realistis, sebagaimana halnya dengan perkambinghitaman yang sering terjadi dalam masyarakat yang telah maju. Dalam hubungan-hubungan antar kelompok, perkambinghitaman digunakan untuk menggambarkan keadaan di mana seseorang tidak melepaskan prasangkan (prejudice) mereka melawan kelompok yang benar-benar merupakan lawan, dan dengan demikian menggunakan kelompok pengganti sebagai obyek prasangka.[18]



Dalam hal lain, Lewis A. Coser (Margaret. M. Poloma, 1992:113-117)[19] mengemukakan teori konflik dengan membahas tentang permusuhan dalam hubungan-hubungan social yang intim, fungsionalitas konflik dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi konflik dengan kelompok luar dan struktur kelompok social, sebagai berikut:

1. Permusuhan dalam hubungan social yang inti. Bial konflik berkembang dalam hubungan-hubungan social yang intim, maka pemisahan antara konflik realistis dan non realistis lebih sulit untuk dipertahankan. Karena semakin dekat suatu hubungan, semakin besar rasa kasih saying yang tertanam, sehingga makin besar juga kecenderungan untuk menelan ketimbang mengungkapkan permusuhan.[20]

2. Fungsionalitas konflik Coser mengutip hasil pemgamatan George Simmel yang menunjukkan bahwa konflik mungkin positif sebab merupakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangan. Sebagai contoh hasil pengamatan Simmel terhadap masyarakat Yahudi, bahwa peningkatan konflik dalam kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan dan ke dalam masyarakat secara keseluruhan. Karena homogenitas mungkin penting bagi kelangsungan suatu kelompok terisolir yang berarti konflik internal tidak ada, meski hal ini dapat juga berarti kelemahan integrasi kelompok tersebut dengan masyarakat secara keseluruhan.

3. Coser berpendapat bahwa kondisi-kondisi yang mempengaruhi konflik dengan kelompok luar dan struktur kelompok akan membantu memantapkan batas-batas structural. Dan sebaliknya konflik dengan kelompok luar juga dapat mempertinggi integrasi di dalam kelompok. Tingkat consensus kelompok sebelum konflik terjadi merupakan hubungan timbale balik paling penting dalam konteks apakah konflik dapat mengurangi persatuan kelompok. Namun bilamana consensus dasar suatu kelompok lemah, maka ancaman dari luar dapat mengancam perpecahan.

Bila ditilik teori konflik dari Coser di atas, maka terlihat bahwa teori yang ia kemukakan berbeda dengan analisis banyak kaum fungsionalis. Teoritis fungsionalis memandang bahwa konflik itu merupakan disfunsional bagi suatu kelompok. Sementara Coser memandang positif yaitu bahwa konflik membantu memepertahankan struktur social.konflik sebagai proses social dapat merupakan mekanisme atau filter untuk bentuk kelompok dan batas-batasnya dipertahankan.

Coser juga menyebutkan konflik itu merupakan sumber kohesi atau perpecahan kelompok tergantung atas asal mula ketegangan, isu tentang konflik, cara bagaimana ketegangan itu ditangani dan yang terpenting adalah tipe stuktur di mana konflik itu berkembang. Berikutnya Coser juga menyebutkan bahwa terdapat perbedaan antara konflik in group dan konflik dengan out group, antara nilai inti dengan masalah yang lebih bersifat pinggiran, antara konflik yang menghasilkan perubahan structural lawan konflik yang disalurkan lewat lembaga-lembaga savety value yaitu salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik social.[21]


2.d Ralf Dahrendorf

Ralf Dahrendorf (1959-1968) adalah tokoh utama yang berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah (konflik dan konsensus) dan karena itu teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian: teori konflik dan teori consensus. Teoritisi consensus harus menguji nilai integrasi dalam masyarakat dan teoritisi konflik harus menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat bersama di hadapan tekanan itu. Dahrendorf mengakui bahwa masyarakat tak kan ada tanpa consensus dan konflik yang menjadi persyaratan satu sama lain. Jadi, kita tak kan punya konflik kecuali ada konsensusu sebelumnya.

Meski ada hubungan antara consensus dan konflik. Dahrendorf tak optimiis mengenai pengembangan teori sosiologi tunggal yang mencakup kedua proses itu. Dia menyatakan: “Mustahil menyatukan teori untuk menerangkan masalah yang telah membingungkan pemikir sejak awal perkembangan filsafat barat” (1959:164). Untuk menghindarkan diri dari teori tunggal itu, Dahredorf membangun teori konflik masyarakat.[22]

Ralf Dahrendorf, selama kunjungan singkatnya di Amerika Serikat (1957-1958), menyadur kembali teori kelas dan konflik ke dalam bahasa Inggris (teori Dahrendorf semula diterbitkan dalam bahasa Jerman, karena itu tidak langsung dapat dipahami oleh para sosiolog Amerika yang tidak paham bahasa Jerman). Sebagai landasan dasar teorinya Dahrendorf tidak menggunakan teori simmel (seperti yang dilakukan Coser) melainkan membangun teorinya dengan separuh penolakan, separuh penerimaan serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx.[23]

Otoritas. Dahrendorf memusatkan perhatian pada struktur social yang lebih luas. Inti tesisnya adalah gagasan bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas otoritas yang berbeda. Otoritas tidak terletak di dalam diri individu, tetapi di dalam posisi. Dahrendorf tak hanya tertarik pada struktur posisi, tetapi juga pada konflik antara berbagai struktur posisi itu: “sumber struktur konflik harus dicari di dalam tatanan peran social yang berpotensi untuk mendominasi atau ditundukkan” (1959:165). Menurut Dahrendorf, tugas pertama analisis konflik adalah mengidentifikasi berbagai peran otoritas di dalam masyarakat. Karena memusatkan perhatian pada tingkat individual. Misalnya, ia dikritik olah orang yang memusatkan perhatian pada ciri-ciri psikolog individu yang menempati posisi itu. Tetapi, menurut Dahrendorf, orang yang melakukan pendekatan demikian bukanlah sosiolog.[24]

Menurut Dahrendorf, otoritas tidak konstan karena ia terletak dalam posisi, bukan di dalam diri orangnya. Karena itu seseorang yang berwenang dalam satu lingkungan tertentu tak harus memegang posisi otoritas di dalam lingkungan yang lain. Begitu pula seseorang yang berada dalam posisi subordinat dalam satu kelompok, mungkin menempati posisi yang superordinat dalam kelompok lain. Bila individu menempati posisi tertentu, mereka akan berperilaku menurut cara yang diharapkan, individu “disesuaikan” atau “menyesuaikan diri” dengan perannya bila mereka menyumbang bagi kelompok antara superordinat dan subordinat.

Aspek terakhir teori konflik Dahrendorf adalah hubungan konflik dengan perubahan. Dalam hal ini Dahrendorf mengakui pentingnya pemikiran Lewis Coser yang memusatkan perhatian pada fungsi konflik dalam konservatif dari konflik hanyalah satu bagian realitas social; konflik juga menyebabkan perubahan dan perkembangan. Singkatnya Dahrendorf menyatakan bahwa segera setelah kelompok konflik muncul, kelompok itu melakukan tindakan yang menyebabkan perubahan dalam struktur social. Bila konflik itu hebat, perubahan yang terjadi adalah radikal. Bila konflik disertai tindakan kekerasan, akan terjadi perubahan struktur secara tiba-tiba. Apa pun cirri konflik, sosioologi harus membiasakan diri dengan hubungan antara konflik dan perubahan maupun dengan hubungan antara konflik dan status quo.[25]



3. Biografi Tokoh-Tokoh Teori Struktural Konflik



1) Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. Ayahnya, seorang pengacara, menafkai keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah dari pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan isnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, Universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru - guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikir Kritis. Gelar doktor Marx di dapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian.

Setelah tamat ia menjadi penulis untuk sebuah koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan ia menjadi editor kepala koran itu. Tetapi karena pendirian politiknya, koran itu kemudian di tutup pemerintah. Esai – esai awal yang di terbitkan dalam periode mulai mencerminkan sebuah pendirian yang membiumbing Marx sepanjang hidupnya. Esai-esai tulisan Marx itu secara bebas di taburi prinsip-prinsip demokrasi , ia menolak keabstrakat filsafat hegelian, mimpi naif komunis utopiadan gagasan aktivis yang mendesak apa yang ia anggap sebagai tindakan politik prematur. Dalam menolak gagasn aktivis ini Marx meletakkan landasan bagi gagasan hidup sendiri.[26]

Marx menikah pada 1843 dan tak lama kemudian ia terpaksa meninggalkan jerman untuk dapt suasana yang lebih libaral di Paris. Di Paris ia bergualat dengan gagasan Hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua kumpulan gagasan baru – sosialisme Prancis dan politik Ekonomi Inggris. Dengan cara yang unik dia menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentuka orientasi intelektualnya. Hal yang sangat penting pula adalah pertemuannya dengan orang yang kemudian menjadi teman seumur hidupnya, donatur dan kolabolatornya yakni Fredrich Engels (Carver, 1983) Engels anak penguasa pabrik tekstil menjadi seorang sosialis yang mengkritik kondisi kehidupan yang di hadapi kelas buruh. Banyak di antara rasa kasihan Marx kesengsaraan kelas buruh berasal dari paparannya kepada Engels dan gagasannya sendiri.[27]

Baru sesudah kematiannya di tahun 1883 karyanya menjadi berpengaruh luas, namun dalam bentuk-bentuk propaganda yang sudah terpenggal-penggal yang dikembangkan oleh Soviet di Timur dan dalam model-model masyarakat yang diperkenalkan oleh para sosiolog professional di Barat. Sebagaimana terjadi pada pemikiran Weber, teori Marx kehilangan banyak pengaruh kritisnya ditangan para teoritisi stratifikasi. Tetapi arah teori Marx sendiri pun dengan cepatnya berubah menjadi kurang kritis dan lebih banyak terkungkung dalam logika indutrialisme.[28]



2) Max Weber

Max Weber lahir di Erfurt, Thuringia, Jerman, 1864, meninggal di Munich 1920.

Karya-karya utama:

Methodology Essay (1902), The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1902-4), Economy and Society (1910-14), Sociology of Religion (1916).[29]

Ia berasal dari keluarga kelas menengah. Perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar terhadap orientasi intelektual dan perkembangan psikologi Weber. Ayahnya seorang birokrat yang kedudukan politiknya relatif penting, dan menjadi bagian dari kekuasaan politik yang mapan dan sebagai akibatnya menjauhkan diri dari setiap aktivitas dan dan idealisme yang memerlukan pengorbanan pribadi atau yang dapat menimbulkan ancaman terhadap kedudukannya dalam sistem. Lagi pula sang ayah adalah seorang yang menyukai kesenangan duniawi dan dalam hal ini, juga dalam berbagai hal lainnya, ia bertolak belakang dengan istrinya. Ibu Marx Weber adalah seorang Calvinis yang taat, wanita yang berupaya menjalani kehidupan prihatin (asetic) tanpa kesenangan seperti yang sangat menjadi dambaan suaminya.[30]

Perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar terhadap orientasi intelektual dan perkembangan psikologi Weber. Ayahnya seorang birokrat yang kedudukan politiknya relatif penting, dan menjadi bagian dari kekuasaan politik yang mapan dan sebagai akibatnya menjauhkan diri dari setiap aktivitas dan dan idealisme yang memerlukan pengorbanan pribadi atau yang dapat menimbulkan ancaman terhadap kedudukannya dalam sistem. Lagi pula sang ayah adalah seorang yang menyukai kesenangan duniawi dan dalam hal ini, juga dalam berbagai hal lainnya, ia bertolak belakang dengan istrinya. Ibu Marx Weber adalah seorang Calvinis yang taat, wanita yang berupaya menjalani kehidupan prihatin (asetic) tanpa kesenangan seperti yang sangat menjadi dambaan suaminya.

Perbedaan mendalam antara kedua pasangan ini menyebabkan ketegangan perkawinan mereka dan ketegangan ini berdampak besar terhadap Weber. Karena tak mungkin menyamakan diri terhadap pembawaan orang tuanya yang bertolak belakang itu, Weber kecil lalu berhadapan dengan suatu pilihan jelas (Marianne Weber, 1975:62). Mula-mula ia memilih orientasi hidup ayahnya, tetapi kemudian tertarik makin mendekati orientasi hidup ibunya. Apapun pilihannya, ketegangan yang dihasilkan oleh kebutuhan memilih antara pola yang berlawanan itu berpengaruh negatif terhadap kejiwaan Weber. Ketika berumur 18 tahun Weber minggat dari rumah, belajar di Universitas Heildelberg.

Ia lalu menempuh kehidupan prihatin (ascetic) dan memusatkan perhatian sepenuhnya untuk studi. dalam kehidupan akademis tahun 1904 dan 1905 ia menerbitkan salah satu karya terbaiknya. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam karya ini Weber mengumumkan besarnya pengaruh agama ibunya di tingkat akademis. Weber banyak menghabiskan waktu untuk belajar agama meski secara pribadi ia tak religius.[31]

3) Lewis A. Coser

Lewis A. Coser lahir di Berlin, tahun 1913.ia menggabungkan karier akademik yang istimewa denga perhatian kuat atas kebijakan social dan politik. Setelah Perang Dunia II, ia mengajar di Universitas Chicago dan Universitas Brandeis, namun gelar Ph.D-nya didapatdari Universitas Columbia pada 1968. Gelar guru besar didapat dari Universitas Brandeis, kemudian diuniversitas ini pula Coser banyak berkiprah di dunia sosiologi.

Kegiatan di luar kampus yang sangat mendukung academic performance Coser adalah ketika 1975 ia terplih menjadi Presiden American Sosiological Association (ASA). Karya Coser yang sangat fenomenal dan monumental adalah The Function of Social Conflict.

Tidak jarang ia mengkritisi pandangan Simmel dengan cara membandingkan dengan gagasan sosiolog-sosiolog klasik. Juga, ia menambahi dengan gagasan seperti dinyatakan ahli psikologi ternama, seperti Sigmund Freud. Hal yang menarik dari Coser adalah bahwa ia sangat disiplin dalam satu tema. Ia benar-benar concern pada tema-tema konflik, baik konflik di tingakatan eksternal maupun internal. Ia mampu mengurai konflik dari sisi luar samapi sisi dalam. Jika dihubungkan dengan pendekatan fungsionalisme, tampak ada upaya Lewis Coser untk mengintegrasikan fungsionalisme dengan konflik. George Ritzer menyatakan bahwa dengan melakukan kombinasi itu, baik teori fungsionalisme maupun teori konflik akan lebih kuat ketimbang berdiri sendiri (Ritzer & Goodman (terjemah), 2003: 159).[32]

4) Ralf Dahrendorf

Sir Ralf Dahrendorf di Hamburg, Jerman, pada tahun 1929. Sebelum menjadi sosiolog, ia mempelajari filsafat dan sastra klasik di Hamburg. Sosiologi dipelajari Dahrendorf sendiri di London, Inggris. Pada tahun 1967, ia memasuki bidang politik di Jerman, di mana ia menjadi anggota parlemen dan seorang menteri, sebelum pergi ke Brussels pada tahun 1970 sebagai komisaris masyarakat Eropa.

Dari tahun 1974-1984, ia menjadi Direktur London School of Economics. Kemudian, sejak 1987, ia menjabat sebagai Kepala St. Anthony’s College, Oxford. Menariknya, sekalipun terlahir di buminya Max Weber, tetapi kiprah keilmuannya banyak dilakukan di Inggris. Empat karya Dahrendorf yang bisa dikatakn cukup monumental adalah Class and Class Conflict in Industrial Society (1959), Society and Democracy in Germany (1967), On Britain (1982), dan The Modern Social Conflict (1989).

Dahrendorf dikenal luas sebagai sosiolog konflik, karena serangan yang cukup kuat pada perspektif sosiologi yang pernah dominan, terutama perspektif fungsionalisme structural. Dahrendorf menyatakan bahwa fungsionalisme adalah sosiologi utopis, sebab perspektif yang dimotori Talcott Parsons ini merumuskan risalah tentang masyarakat dengan penekanan pada niali-nilai bersama (shared values), consensus, integrasi social, dan equilibrium (keseimbangan).[33]






C. KESIMPULAN

1. Secara etimologi, struktural berarti susunan atau bangunan. Sedangkan secara terminologi, struktural adalah pengaturan pola-pola secara sintagmatis.

Secara etimologi, konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara terminologi, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

2. Teori struktural konflik muncul dalam sosiologi Amerika Serikat pada tahun 1950-an dan 1960-an yang merupakan kebangkitan kembali berbagai gagasan yang diungkapkan sebelumnya oleh Karl Marx dan Max Weber. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap fungsionalisme structural. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan.

3. Biografi para tokoh teori structural konflik diantaranya yaitu : (1) Karl Marx yang lahir di Trier, Prusia, Jerman pada 5 Mei 1818. Meninggal pada 14 maret 1883. (2) Max Weber, lahir di Erfurt, Thuringia, Jerman, 21 April 1864. Ia meninggal di Munich tahun 1920. (3) Lewis A. Coser, lahir di Berlin tahun 1913, karyanya yang sangat fonumnal dan monumental adalah The Function of Social Conflict. (4) Ralf Dahrendorf, lahir di Hamburg, Jerman, pada tahun 1929. Empat karya diantaranya The Modern Social Conflict : 1989.





DAFTAR RUJUKAN

Goodman, Douglas J. & George Ritzer. 2004, Teori Sosiologi Modern. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Hunt, Chester L. & Paul B. Horton. 1984, Sosiologi. Jakarta: PT Gelora Aksara

Pratama.

Jones, Pip. 2009, Pengantar Teori-Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor

Indonesia.

M.S, Prof, Dr. Nasrullah Nazsir. 2008, Teori-teori Sosiologi. Bandung: Widya

Padjajaran.

Poloma, Margaret. 2007, Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Susilo, Rachmad K. Dwi. 2008, 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biografi para Peletak

Sosiologi Modern. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Kamus Bahasa Indonesia-Pusat Bahasa 2008.


[1] Menurut KBI (Kamus Bahasa Indonesia)-Pusat Bahasa 2008.

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik. (Diakses pada 6 maret 2012, pukul 15.05)

[3] http://miftahularie.blogspot.com/2011/12/definisi-konflik.html. (Diakses pada 6 maret 2012 pukul 15.05)

[4] Nasrullah Nazsir, M.S., Teori-Teori Sosiologi, Bandung: Widya Padjajaran. Hlm 17

[5] Umm_blog_article_184.pdf. (diakses pada 21 Maret 2012, pukul 14:45)

[7] Ibid.,umm_blog_article_184.pdf

[8] Paul B. Horton & Chester L. Hunt., Sosiologi, Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama. Hal 19-20

[9] Ibid.,Nasrullah Nazsir, M.Si. hal 17-18

[10] Op.,cit..hal 19

[11] Log.,cit hal 19-20

[12] Nasrullah Nazsir, M.S, Teori-Teori Sosiologi,Bandung: Widya Padjajaran.hal 20

[13] Margaret Poloma, Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Hal 105-106

[14] Buku: Coser, The Functions of Social Conflict.1956. hal 16-19

[15] Buku: Coser, The Functions of social Conflict.1956. hal 41

[16] Ibid.,hal 106-108

[17] Buku: Coser, The Functions of Social Conflict.1956. hal 49

[18] Op.,cit hal 108-110

[19] Margaret Poloma, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Hal 113-117

[20] Nasrullah Nazsir, M.S., Teori-Teori Sosiologi, Bandung: Widya Padjajaran. Hal 21

[21] Ibid.,2 hal 22-23

[22] George Ritzer & Douglas J. Goodman, TEORI SOSIOLOGI MODERN, Jakarta: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP. Hal 153-154

[23] Ibid.,Margaret M. Poloma. Hal 129-130

[24] Pip Jones, PENGANTAR TEORI-TEORI SOSIAL Dari teori Fungsionalisme hingga Post-modernime.Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal 23

[25] Ibid.,George Ritzer. Hal 154-157

[26] http://kolom-biografi.blogspot.com/com/2009/01/biografi-karl-marx.html. (diakses pada 26 Maret 2012, pukul 18:58)

[27] Ibid.,http://kolom-biografi.blogspot.com/com/2009/01/biografi-karl-marx.html

[28] Peter Beilharz, Teori-Teori Sosial. Jakarta: Pustaka Pelajar. Hal 269-270

[29] Ibid.,PIP Jones.hal 363-364

[30] http://doktorpaisal.wordpress.com/2009/11/24/biografi-max-weber/ (diakses pada 26 Maret 2012, pukul 18:58)

[31] Ibid.,biografi max weber

[32] Ibid., hal 223-224

[33] Rachmad K. Dwi Susilo. 20 Tokoh Sosiologi Modern: Biogarfi para Peletak Sosiologi Modern. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Hal 312

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar