Selasa, 24 April 2012

Yunani Kuno

Keadaan Alam, Seni Pahat/ Seni Patung, Kepercayaan Dan Peninggalan Budaya Yang Ada Di Zaman Yunani

Keadaan alam di wilayah kekuasaan yunani  pada zaman pra-sejarah sangatlah minim dan masih belum disa ikatakan bagus karena di wilayah yunani sebgian besar dikuasi oleh dataran tinggi dan pegunungan, dan jenis tanahnya tandus yang menjadikan banyak orang yunani memutar otak untuk membuat perahu kacil yang bisa dinaiki untuk mencari dataran yang luas dan bisa ditanami. Wilayah yunani bagian pinggiran pantai bentuk tanahnya tidak seperti layaknya pantai-pantai yang memiliki dataran yang landai, di rilayah yunani pinggiran laut memiliki tebing-tebing yang yang terjadi karena untuk memecah ombak.
Banyak penduduk asli dari yunani merantau untuk mencari kehidupan Karena wilayahnya yang tidak bisa diolah, tetapi dengan kepintarannya tersebut perluasan wilayah yang bukan termasuk wilayahnya sendiri menjadi lebih mudah dan lebih maju daripada wilayah asalnya mereka sendiri.
Dari bentuk tanah yang tandus banyak orang pintarnya menjadikan yunani memiliki seni bangunan yang bagus dan seni pahat yang begitu menarik perhatian dari zaman kuno tersebut.
Pada awalnya seni patung/pahat Yunani menghasilkan patung seperti patung bangsa Mesir, kemudian dikembangkan menjadi lebih hidup dengan gaya naturalis. Patung dibuat dari marmer dan perunggu. Pemahat yang terkenal di Yunani bernama Phidias, sedangkan arsitek bangunan yang terkenal antara lain bernama Ikhtinus. Seni pahat menghasilkan berbagai patung para dewa maupun tokoh yang terkenal misalnya Dewa Zeus, Perikles, Plato, Aristoteles dan lain-lain.
Pada masa pemerintahan Perikles seni bangunan Yunani berkembang pesat. Peninggalan bangunan kuno Yunani antara lain kuil pemujaan. Di bukit Acropolis berdiri megah kuil Parthenon dan kuil Erechteum yang di dalamnya terdapat patung dewi Palas Athena.
Pada gambar kuil Partenon. Yang paling menarik adalah bagian tiangnya. Tiang tersebut dikenal dengan gaya Doria. Selain gaya Doria masih ada dua gaya Korintia dan Ionia. Untuk lebih jelasnya Anda dapat mempelajari dari pendidikan seni. Di bukit Olymphus dibangun kuil untuk dewa Zeus yang disebut kuil Altis. Di daerah koloni Yunani juga dibangun kuil misalnya kuil Zeus di Italia Selatan, kuil Apollo di Milate dan lain-lain. Selain kuil, peninggalan bangunan Yunani adalah gedung theater. Anda dapat menyaksikan gambar theater di Epidaurus yang sangat megah.
Teater adalah panggung di lapangan terbuka untuk pementasan misalnya komedi. Penonton duduk di bangku-bangku yang terbuat dari batu. Bagi orang Yunani, teater merupakan bagian pendidikan dan setiap orang dianjurkan untuk menonton.
Penjelasan dari tokoh dan bangunan Yunani tersebut adalah :
1.   Sastrawan Yunani, pengarang kitab Illiad dan Odyseia.
2.   Dewi pelindung kota/ keselamatan.
3.   Dewi kecantikan.
4.   Dewa kesenian.
5.   Pencipta “kuda Troya”, tokoh pahlawan Yunani dalam perang melawan Troya.
6.   Kuil di bukit Acropolis yang di dalamnya terletak patung Dewi Pallas Athena.
7.   Kuil untuk pemujaan dewa Zeus di bukit Olymphus.
8.   Ahli pahat jaman raja Perikles yang membuat patung dada dari tokoh-tokoh dewa, hera dll.
9.   Seorang dramawan Yunani yang menciptakan drama berjudul Antigone.
10. Raja Sparta yang bermusuhan dengan Priamus Raja Troya dalam Perang Troya.
Mitologi Yunani telah berkembang seiring waktu demi menyesuaikan dengan perkembangan budaya Yunani itu sendiri, yang mana mitologi, baik secara terang-terangan maupun dalam asumsi-asumsi tak terucapkan, merupakan suatu indeks perubahan. Dalam bentuk sastra mitologi Yunani yang masih tersisa, seperti dapat ditemukan kebanyakan pada akhir perubahan yang progresif, pada dasarnya bersifat politik, seperti yang dikemukakan oleh Gilbert Cuthbertson.
Penghuni Semenanjung Balkan yang lebih awal merupakan masyarakat agraris yang menganut Animisme dan mempercayai keberadaan roh pada setiap unsur alam. Dalam perkembangan selanjutnya, roh-roh yang samar-samar itu diberikan wujud manusia dan terlibat dalam mitologi lokal sebagai dewa. Kemudian muncul suku-suku dari sebelah utara semenanjung Balkan yang datang menyerang. Dalam invasinya, mereka membawa serta kepercayaan baru yang di dalamnya terdapat pantheon dewa-dewa baru, yang didasarkan pada penaklukan, keberanian dalam perang, dan kepahlawanan yang kejam. Dewa-dewa yang telah lebih dulu ada kemudian menyatu dengan dewa sembahan para penyerang yang lebih kuat. Semantara dewa-dewa yang tidak terasimilasi akhirnya menghilang dan tak lagi dianggap penting.
Setelah pertengahan periode Arkais, mitos mengenai hubungan cinta dan seksual antara dewa pria dengan manusia pria muncul lebih sering, mengindikasikan adanya perkembangan yang paralel dengan pejantanan pedagogis (Eros paidikos, παιδικός ἔρως), yang dpercaya telah diperkenalkan sekitar tahun 630 SM. Pada akhir abad kelima SM, para penyair telah memberikan setidaknya satu eromenos (pemuda remaja yang menjadi pasangan untuk hubungan seksual) untuk setiap dewa yang penting kecuali dewa Ares. Kekasih pria juga dimiliki oleh para tokoh-tokoh manusia yang legendaris. Mitos yang telah ada sebelumnya, seperti misalnya hubungan persahabatan antara Akhilles dan Patroklos, juga dijadikan hubungan cinta sesama jenis. Fenomena ini dimulai oleh para penyair Iskandariyah, dan kemudian dilakukan juga oleh para mitografer yang lebih umum di Kekaisaran Romawi awal. Mereka sering mengadaptasi ulang cerita-cerita mitologi Yunani dengan gaya itu.
Pencapaian dibuatnya wiracarita adalah untuk menciptakan siklus cerita dan, sebagai akibatnya, untuk mengembangkan pemahaman baru mengenai kronologi mitologis. Jadi mitologi Yunani terungkap sebagai fase dalam perkembangan dunia dan manusia. Sementara kontradiksi-diri dalam cerita-ceritanya menjadikan tidak mungkin untuk adanya garis waktu yang mutlak, namun suatu kronologi yang mendekati itu dapat dilihat. "Sejarah dunia" mitologi yang dihasilkan kemudian, dapat dibagi menjadi tiga atau empat periode yang cakupannya cukup luas, yaitu:
  1. Mitos asal usul atau zaman para dewa (Theogonia, "kelahiran para dewa"): mitos tentang asal mula dunia, para dewa, dan umat manusa.
  2. Zaman ketika dewa dan manusia hidup bersama-sama: kisah-kisah mengenai interaksi awal antara para dewa, setengah dewa, dan manusia.
  3. Zaman para pahlawan (zaman kepahlawanan), ketika intervensi para dewa mulai berkurang. Kisah yang terakhir dan terhebat dari legenda kepahlawanan adalah cerita Perang Troya dan kisah-kisah setelahnya, yang oleh beberapa sejarawan dipisahkan menjadi periode keempat yang terpisah.
Menurut Edith Hamilton, karakteristik mitologi Yunani adalah adanya upaya orang Yunanii kuno untuk mengurangi tingkat kebiadaban dalam mitologi mereka. Selain itu mitologi Yunani tidak banyak berisi hal-hal supranatural; tidak ada penyihir pria dan hanya ada dua orang penyihir wanita, juga tidak ada cerita mengenai hantu yang menakutkan atau astrologi yang mempengaruhi nasib manusia.
Dan pada akhir artikel yang saya tulis ini membahas tentang peninggalan budaya yang sudah ditulis pada seni-seni yang lahir dari kekuasaan Yunani, yaitu patung dada dan kepala plato, kuil Parthenon, Theater di Epidaurus dan lain sebagainya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar